
Ternyata, saat hujan turun, bukan cuma langit yang berubah, tapi tubuh dan otak kita pun ikut bereaksi. Efeknya bisa bikin kamu pengen rebahan, atau malah jadi paling Ternyata, saat hujan turun, bukan cuma langit yang berubah, tapi tubuh dan otak kita pun ikut bereaksi. Efeknya bisa bikin kamu pengen rebahan, atau malah jadi paling produktif sedunia!
Kurang Sinar Matahari = Serotonin Turun = Mood Menurun
- Saat langit mendung (intensitas cahaya berkurang), produksi hormon serotonin (hormon happy) ikut berkurang.
- Cahaya ini memengaruhi produksi serotonin yang berfungsi mengatur suasana hati, nafsu makan, dan tidur.
- Kurangnya serotonin memicu suasana hati yang kurang baik, seperti galau, depresi musiman (seasonal affective disorder/SAD).
Cahaya Redup = Produksi Melatonin Naik = Mengantuk
- Ketika tidak ada cahaya terang saat siang hari, tubuh kita mengira sudah malam.
- Produksi melatonin (hormon pengantar tidur) pun meningkat.
- Efeknya? Tubuh “mengingat” hari sudah malam – ingin ganti mode rebahan, tidur, dan merasa malas melakukan banyak hal.
Tapi Hujan Bisa Bikin Lebih Fokus!
- Studi Harvard (Guo et al., 2014) menemukan bahwa penurunan cahaya saat mendung ternyata bikin otak kita lebih fokus.
- Tanpa gangguan visual dari cahaya terang, otak kita kembali ke sustained attention (fokus berkelanjutan) yang lebih dalam.
- Penurunan dopamin akibat kurangnya sinar matahari membuat otak kita menghindari gangguan visual dan mencari mono-tasking.
- Selain itu, saat hujan, orang cenderung berada di dalam ruangan sehingga membatasi rangsangan dan dorongan untuk scrolling dan berbelanja.
Suara Hujan = Terapi White Noise Alami
- Suara hujan berada di rentang 20-100 dB (desibel), konsisten, ritmis, dan tenang, sehingga sangat menenangkan.
- Kondisi ini menstimulasi gelombang otak alpha, yang terkait dengan relaksasi dan meditasi.
- Penelitian menunjukkan bahwa suara putih (white noise) dapat menurunkan kadar kortisol (hormon stres utama).
Cuaca Mendung & Hujan = Peningkatan Kreativitas
- Penelitian menunjukkan bahwa suasana hati yang netral (tidak terlalu senang/sedih) akan lebih baik untuk memproses informasi dan menghasilkan ide-ide baru.
- Suasana ambigu (suara tetesan hujan) juga dapat memicu pikiran kreatif.
- Saat suhunya lebih rendah, pikiran jadi lebih tajam. Hal ini bisa membuatmu jadi “si paling produktif” di tengah cuaca dingin dan hujan.
Udara Jadi Lebih Bersih (Tapi Ada Efek Sampingnya)
- Hujan juga bertindak seperti filter alami, menangkap debu dan polutan di udara, membuat udara terasa segar.
- Namun, kelembapan tinggi setelah hujan justru bisa picu pertumbuhan jamur, nyamuk, dan bakteri.
Jadi, Gimana Cara Maksimalin Efek Positifnya?
- Tetap buka tirai & biarkan cahaya alami masuk.
- Gunakan suasana tenang untuk belajar atau refleksi.
- Dengarkan white noise hujan untuk menenangkan pikiran.
- Minum-minuman hangat untuk menjaga suhu inti tubuh.
- Gunakan waktu ini untuk slow down, bukan berhenti.
Kesimpulan
- Cahaya berkurang – serotonin turun – mood & energi ikut menurun.
- Produksi melatonin naik – tubuh masuk mode istirahat, bikin mudah ngantuk.
- Suara hujan (jadi white noise alami) – menurunkan kortisol & bantu fokus atau tidur.
- Cuaca redup tingkatkan konsentrasi & kreativitas – otak lebih tenang, reflektif, dan produktif.
- Udara jadi lebih bersih setelah polutan disapu oleh hujan.
- Tapi kelembapan tinggi juga bisa picu pertumbuhan jamur, nyamuk, dan bakteri.
Share ke temanmu yang selalu galau kalau hujan!
